Tak Ada Ayah, Tak Ada Ibu, Kini Mereka Punya Rumah untuk Bertahan

  • Bagikan

CIANJUR | inicianjur.com — Pagi itu, halaman rumah baru di Kampung Sukatani terasa lebih sunyi dari biasanya. Tiga anak duduk berderet di teras, kaki mereka menggantung, mata menatap tanah. Tak ada tawa, tak ada teriakan riang seperti anak-anak seusia mereka. Yang ada hanya diam, diam yang lahir dari kehilangan terlalu besar untuk diucapkan.

Beberapa bulan lalu, hidup mereka runtuh pelan-pelan. Sang ayah, Wahyu, pergi lebih dulu. Belum sempat luka itu sembuh, ibu yang selama ini menjadi satu-satunya sandaran ikut berpulang. Sejak hari itu, dunia terasa jauh lebih dingin. Tak ada lagi suara yang memanggil nama mereka saat pagi tiba. Tak ada tangan yang memastikan mereka sudah makan atau belum.

Namun, mereka tetap bertahan, tinggal di rumah lama yang rapuh. Saat hujan turun, mereka memindahkan barang agar tidak basah. Saat malam datang, mereka saling mendekat untuk melawan rasa takut. Rumah itu bukan lagi tempat berlindung, melainkan pengingat betapa keras hidup menguji mereka.

Jumat (16/1/2026), sebuah perubahan datang. Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan hadir dan menyerahkan kunci rumah layak huni kepada ahli waris keluarga almarhum Wahyu.

Kunci itu kecil, namun artinya besar: mereka tak lagi harus bertaruh dengan hujan, angin, dan gelapnya malam.
“Sekarang kalian punya rumah yang aman,” ucap Kapolda pelan. Kalimat sederhana itu membuat salah satu anak menunduk lama, menyeka mata dengan ujung baju.

Rumah ini dibangun melalui kolaborasi Polda Jabar, Polres Cianjur, Pemerintah Kabupaten Cianjur, dan Komunitas Sosial Bagong Mogok. Bagi banyak orang, rumah ini hanyalah bangunan tembok dan atap. Namun bagi tiga anak ini, rumah itu adalah awal untuk kembali merasa manusia, punya tempat pulang, punya rasa aman.

Baca juga

Tak hanya rumah, dua ekor domba ikut diserahkan. Domba-domba itu kini berdiri di kandang sederhana di samping rumah. Mereka menjadi simbol harapan bahwa suatu hari, anak-anak ini bisa hidup dari usaha sendiri, meski tanpa orang tua di sisi mereka.

Kapolres Cianjur AKBP Ahmad Alexander Yurikho Hadi, Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian, dan Founder Komunitas Sosial Bagong Mogok Brigjen Pol Asep Guntur Rahayu menyaksikan momen itu dalam diam. Tak banyak kata. Kesedihan anak-anak itu sudah berbicara lebih keras dari pidato mana pun.

Hari ini, tiga anak yatim piatu itu tidak mendapat kembali ayah dan ibu mereka. Kehilangan itu tetap utuh, tak tergantikan. Namun setidaknya, mereka kini punya rumah tempat untuk bertahan hidup, menata hari esok dan belajar bahwa di tengah kesendirian, masih ada kepedulian yang memilih hadir.***

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!