MBG di Cianjur Diprotes Wali Murid, Dinilai Tak Penuhi Standar Gizi

  • Bagikan

CIANJUR | INICIANJUR COM – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Dipawangi, Kabupaten Cianjur, diprotes sejumlah wali murid. Paket makanan yang disalurkan dinilai tidak memenuhi standar gizi seimbang, tidak sesuai nilai anggaran, hingga dikeluhkan sudah basi saat akan dikonsumsi siswa.

Protes wali murid ini mencuat dan viral di media sosial usai pembagian paket MBG pada Senin dan Selasa lalu. Pada Senin, siswa menerima menu berupa kurma, bubur kacang hijau, roti, dan santan. Sementara pada Selasa, paket berisi abon, kurma, susu, dan nasi ketan.

Salah seorang wali murid, Deri Lesmana, mempertanyakan kualitas makanan yang dinilai tidak sepadan dengan besaran anggaran pemerintah untuk program tersebut.

“Kalau dilihat dari isi dan kualitasnya, jelas tidak sampai Rp15 ribu,” tegas Deri.

Selain keluhan soal anggaran, jenis menu juga disorot. Nasi ketan dinilai kurang kandungan protein serta berisiko mengganggu pencernaan anak-anak. Masalah lain terjadi pada menu bubur kacang hijau yang dilaporkan berubah rasa dan aroma (basi) karena rentang waktu yang lama antara pembagian dan waktu konsumsi.

Guru SDN Dipawangi, Renim, membenarkan adanya keluhan tersebut. Ia menjelaskan, bubur kacang hijau dibagikan pada pukul 09.30 WIB. Karena mayoritas siswa sedang berpuasa, makanan tersebut baru dikonsumsi saat buka puasa (magrib).

“Ada laporan dari orang tua soal bubur kacang yang diduga basi. Kami sarankan jika dirasa aneh, sebaiknya tidak dikonsumsi,” ujar Renim.

Renim menegaskan, pihak sekolah tidak berwenang menentukan menu dan hanya bertugas menyalurkan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia memastikan keluhan wali murid langsung diteruskan ke pihak penyedia, sehingga menu pada hari berikutnya telah kembali normal.

Menanggapi polemik ini, Kepala SPPG Sawah Gede 4, Krisnawan, secara resmi menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian dalam penentuan menu paket makanan tersebut.

“Kami mohon maaf atas kekeliruan menu yang kami pilih. Ini menjadi bahan evaluasi agar ke depan bisa lebih baik lagi dalam membangun gizi anak Indonesia,” kata Krisnawan. ***

Penulis: RestuEditor: D.Lesmana
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!