CIANJUR | INICIANJUR.COM – Bulan suci Ramadhan selalu membawa lonjakan ekonomi bagi para pedagang takjil di kawasan wisata Cipanas, Kabupaten Cianjur. Namun, di balik semaraknya pasar tumpah tersebut, terdapat ancaman ekologis serius berupa lonjakan penggunaan kemasan plastik dan styrofoam sekali pakai yang berisiko mencemari sumber air warga di wilayah hilir.
Koordinator Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikundul, Herry Trijoko, menyoroti persoalan ini. Menurutnya, peningkatan volume sampah setiap bulan Ramadhan di Cipanas bisa mencapai 10 hingga 12 persen. Angka tersebut menjadi beban akumulasi yang signifikan bagi ekosistem hulu.
Dalam keterangan resminya pada Sabtu (2/3), Herry menegaskan bahwa tumpukan plastik dan styrofoam di Cipanas bukan sekadar masalah estetika wisata, melainkan ancaman sistemik.
“Kita mungkin melihat penggunaan plastik ini sebagai hal biasa, praktis, dan murah. Tetapi Cipanas bukan hanya daerah wisata, ia adalah kawasan hulu yang menopang sistem air bagi jutaan masyarakat di Jakarta, Bekasi, dan Bogor,” tegas Herry.
Lebih lanjut, Herry memperingatkan bahaya tak kasat mata dari limbah tersebut, yakni mikroplastik. Styrofoam dan plastik yang terkena panas dari makanan akan terurai menjadi partikel sangat kecil yang mudah masuk ke tanah, sungai, hingga rantai makanan manusia dan hewan.
“Jika hulu tercemar, hilir akan menanggung akibatnya. Kualitas air menurun dan biaya pengolahan air bersih akan meningkat. Pada akhirnya, masyarakat luas yang membayar dampaknya,” jelasnya.
Meski demikian, Herry menyadari bahwa para pedagang tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Mereka berhadapan dengan realitas ekonomi di mana kemasan plastik jauh lebih murah dan mudah didapat dibandingkan alternatif ramah lingkungan. Di sisi lain, kesadaran pembeli untuk membawa wadah sendiri masih sangat rendah.
Oleh karena itu, penanganan sampah di kawasan Cipanas membutuhkan intervensi sistemik. Herry mendesak pemerintah dan pemangku kepentingan untuk segera mengambil langkah nyata, di antaranya:
-
Melakukan sosialisasi berkelanjutan, bukan sekadar imbauan musiman.
-
Memberikan insentif bagi pedagang yang beralih ke kemasan ramah lingkungan.
-
Mengedukasi wisatawan agar membawa wadah belanja sendiri.
-
Menerapkan pembatasan penggunaan styrofoam secara bertahap.
Di akhir keterangannya, Herry mengingatkan masyarakat untuk mengembalikan esensi Ramadhan sebagai bulan pengendalian diri.
“Jika kita mampu menahan lapar dan dahaga, seharusnya kita juga mampu menahan diri untuk tidak menambah beban lingkungan. Jangan sampai kemudahan sesaat di hulu hari ini, kembali kepada kita dalam bentuk krisis air dan kesehatan di esok hari,” pungkasnya. ***












