CIANJUR | INICIANJUR.COM – Ketegangan dan rasa waswas kini menghantui keluarga jamaah umroh asal Cianjur. Di tengah eskalasi konflik berdarah yang kian memanas di kawasan Timur Tengah, nasib dan keselamatan warga Cianjur di Tanah Suci seolah diselimuti kabut ketidakpastian.
Ironisnya, di saat publik menanti jaminan keselamatan, pintu ruang Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umroh PLT Kementerian Haji dan Umroh, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia ( IPHI ) Cianjur justru tertutup rapat bagi awak media pada Rabu (4/3/26/
Upaya penelusuran fakta yang dilakukan para jurnalis sejak pagi hari bak menabrak tembok tebal. Awalnya, petugas keamanan berdalih sang pejabat sedang tidak berada di tempat.
Namun, saat awak media kembali datang pada pukul 13.40 WIB untuk menerobos ketidakpastian tersebut, benteng birokrasi kembali didirikan meski PLT KHU dipastikan berada di dalam ruangannya.
Seorang perwakilan humas mendadak keluar mencegat langkah wartawan. Dengan alasan pimpinan sedang sibuk menerima panggilan telepon dan tamu, ia meminta awak media mundur. “Wawancara dijadwalkan ulang saja agar lebih kondusif,” ucapnya, seolah menyepelekan kondisi darurat yang tengah menanti jawaban.
Sikap bungkam dan tertutup ini seketika memicu kecurigaan yang mencekam di kalangan jurnalis. Terlebih, beredar kabar bahwa ada pihak tertentu yang justru diberi akses masuk secara diam-diam di hari yang sama. Diskriminasi informasi ini memunculkan satu pertanyaan besar, Ada fakta apa yang sebenarnya sedang disembunyikan di balik tembok Kemenag Cianjur.
Kehadiran jurnalis ke kantor tersebut bukanlah untuk liputan biasa. Ini menyangkut nyawa. Rentetan ketegangan bersenjata dan bayang-bayang perang di kawasan yang berdekatan dengan Tanah Suci telah memicu kepanikan luar biasa.
Keluarga jamaah di Tanah Air kini tak bisa tidur nyenyak, dihantui ketakutan dan menanti kabar sanak saudara mereka yang berada di dekat radius konflik. Setiap detik sangat berharga, namun otoritas terkait di Cianjur justru memilih membisu.
Publik tidak butuh birokrasi penjadwalan ulang; mereka butuh kepastian detik ini juga bahwa keluarga mereka aman dari ancaman bahaya. Hingga berita ini diturunkan, bayang-bayang ketakutan masih menggantung pekat di Cianjur. Belum ada satu pun pernyataan resmi yang keluar dari mulut Kasi KHU.
Redaksi menuntut keterbukaan informasi dan tetap menyediakan ruang klarifikasi, menanti apakah nurani para pemangku kebijakan akan segera bersuara, atau memilih terus bersembunyi di balik alasan administratif saat keselamatan nyawa warganya sedang dipertaruhkan.***












