CIANJUR | INICIANJUR.COM — Di balik sejuknya udara Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, masih tersimpan senyap perjuangan keluarga-keluarga prasejahtera yang berusaha membesarkan anak-anak mereka di tengah keterbatasan. Pada Rabu (4/3/2026), secercah harapan itu datang mengetuk pintu rumah mereka.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd, turun langsung menyusuri permukiman warga. Ia datang bukan sekadar membawa program, tetapi untuk melihat dan mendengar langsung denyut nadi kehidupan masyarakat lapisan bawah yang rentan terhadap bayang-bayang stunting (tengkes).
Sebuah pemandangan yang mengiris hati terungkap saat Wihaji melangkah masuk ke salah satu rumah warga. Di rumah sederhana itu, ia mendapati realitas pahit: fasilitas cuci dan buang air (MCK) menyatu dengan dapur tempat keluarga memasak makanan sehari-hari. Di rumah lainnya, seorang ibu harus berjuang membesarkan lima anak dan satu balita di tengah impitan ekonomi.

Melihat kondisi yang jauh dari kata layak tersebut, nada bicara Wihaji terdengar haru namun tegas. Ia memastikan bahwa negara tidak akan menutup mata.
“Ini adalah bagian dari kehadiran pemerintah. Tidak semua bisa langsung dibantu, tapi kita mulai dari yang super prioritas. Kita akan berikan bantuan renovasi rumah sekitar Rp25 juta hingga Rp50 juta agar rumah ini layak huni,” ungkap Wihaji.
Bagi Wihaji, memperbaiki satu rumah bukan sekadar mendirikan tembok dan atap, melainkan membangun masa depan. “Menyelamatkan satu orang sama dengan menyelamatkan satu generasi,” ucapnya pelan namun penuh makna.
Selain memastikan tempat tinggal yang layak, kedatangan Wihaji ke Cipanas adalah untuk mengawal langsung amanat negara melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) khusus 3B (ibu menyusui, ibu hamil, dan balita non-PAUD).
Di lapangan, Wihaji menemukan pemandangan yang mengundang decak kagum. Sepiring gizi untuk anak-anak bangsa itu tidak datang dengan sendirinya. Ada peluh para Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang rela berjalan kaki menyusuri jalanan desa, mengetuk pintu demi pintu, memastikan makanan bernutrisi sampai ke tangan ibu hamil dan balita.
Wihaji tersenyum bangga melihat dedikasi 52 ribu TPK di seluruh Indonesia, termasuk di Cianjur, yang menjadi tulang punggung program yang kini menyentuh 6,2 juta jiwa setiap harinya. Ia memastikan hak dan insentif para pahlawan gizi ini telah ditunaikan oleh negara.

“Alhamdulillah, para TPK ini bekerja luar biasa maksimal. Mereka menjalankan tugas mulia untuk negara, sekalian berolahraga karena banyak yang harus berjalan kaki dari rumah ke rumah,” tuturnya mengapresiasi.
Di balik masalah gizi dan sanitasi, Wihaji juga menangkap satu akar masalah yang kerap membelenggu keluarga miskin: kehamilan yang tidak direncanakan. Dari dialog dari hati ke hati bersama warga, Wihaji menemukan kisah ibu-ibu yang harus kembali mengandung karena kegagalan alat kontrasepsi pil.
Kehadiran anak adalah anugerah, namun tanpa perencanaan, anak-anak yang tak berdosa sering kali harus ikut menanggung beban kemiskinan. Oleh karena itu, Wihaji menekankan bahwa pemahaman tentang Keluarga Berencana (KB) harus diubah.
“KB itu bukan semata-mata soal alat kontrasepsi. Ini tentang cinta kasih orang tua. Bagaimana kita merencanakan keluarga agar setiap anak yang lahir ke dunia bisa ditata masa depannya dengan baik, bisa merasakan bangku sekolah, dan mendapatkan kehidupan yang layak,” pesan Wihaji dengan raut wajah penuh harap.
Meski angka stunting di Cianjur kini berada di angka 7% jauh lebih baik dari rata-rata nasional, kunjungan hari itu menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka statistik, selalu ada wajah anak-anak yang menunggu uluran tangan.
Melalui perbaikan gizi, bedah rumah, dan perencanaan keluarga, pemerintah menanam asa agar kelak, tak ada lagi anak Cianjur yang tertinggal untuk meraih cita-citanya.***












