Cianjur|INICIANJUR.COM – Suasana bulan suci Ramadan dimanfaatkan oleh PT Daya Mas Geopatra Pangrango (DMGP) untuk mempererat hubungan dengan masyarakat sekitar area proyek panas bumi. Bertempat di Kampung Ciguntur, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, perusahaan ini menggelar acara buka puasa bersama pada Selasa (17/3/2026).

Humas PT DMGP, Imron Rosyadi, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang sudah berjalan rutin memasuki tahun keempat. Tujuannya tak lain untuk membangun silaturahmi sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai energi baru terbarukan.

Baca Juga: Buka Bersama ARWT Pacet, Sarana Edukasi dan Diskusi Warga Terkait Proyek Geothermal di Cipendawa

Dalam pertemuan sore itu, perusahaan menyalurkan santunan dan sembako kepada 50 orang warga, yang terdiri dari 10 anak yatim dan 40 lansia serta duafa. Selain itu, bantuan operasional senilai Rp5 juta diserahkan untuk masjid di Ciguntur dan Rp5 juta untuk masjid di Pasir Cina. Kolaborasi serupa juga dilakukan bersama MUI Kecamatan Pacet dengan menyantuni 20 anak yatim dan 30 guru ngaji.

Suasana PT DMGP mempererat hubungan dengan masyarakat Ciguntur.(Foto:Restu/INICIANJUR.COM).

Pemberian santunan ini disambut dengan senyum syukur oleh warga. Kegiatan sosial ini dinilai sebagai langkah positif perusahaan untuk hadir di tengah kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Namun, seiring berjalannya dialog dalam acara silaturahmi tersebut, suasana mulai berubah. Di balik ucapan terima kasih atas sembako yang diterima, tokoh masyarakat mulai menyuarakan kegelisahan warga yang selama ini terpendam.

Wakil Ketua RW 015 Kampung Ciguntur, Asep Ridwan, mengambil kesempatan itu untuk mengingatkan kembali janji-janji perusahaan yang tak kunjung terealisasi. Menurutnya, kesepakatan mengenai pembangunan jalan dan pipanisasi air bersih seolah jalan di tempat.

“Itu sudah dirapatkan berulang-ulang dengan pihak perusahaan, bahkan kami diminta mengecek sumber air dan menghitung RAB-nya. Tapi sampai saat ini belum ada jawaban yang pasti,” ungkap Asep dengan nada kecewa.

Ternyata, tuntutan infrastruktur bukanlah masalah terbesar yang sedang dihadapi warga. Puncak dari aspirasi masyarakat hari itu dilontarkan dengan tegas oleh Ketua RW 015, H. Jaimin.

Di hadapan perwakilan perusahaan, Jaimin mengungkap fakta bahwa kehadiran proyek panas bumi telah memicu konflik horizontal di lapangan. Ia menuntut keadilan bagi warganya yang menjadi korban kekerasan fisik akibat gesekan antara pihak yang mendukung dan menolak (kontra) proyek PT DMGP.

“Terkait keadilan penegakan hukum, pernah ada warga kami yang didorong dan dipukul oleh pihak yang kontra. Kami selaku Ketua RW punya harapan besar kepada PT DMGP agar ini segera ditindaklanjuti. Kami berharap proses hukum berjalan sebagaimana mestinya agar muncul keadilan di Kampung Ciguntur!” tegas Jaimin menutup aspirasinya.***