CIANJUR|INICIANJUR.COM – Ada yang janggal di SDN Babakan Caringin 1, Desa Babakancaringin, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, Senin (6/4/2026). Di saat transparansi publik semakin dituntut, yang muncul justru aksi sembunyi-sembunyi yang bikin geleng kepala.
Kepala Sekolah SDN Babakan Caringin 1, Irma Rismayanti, diduga menghindari awak media dengan cara yang tak biasa, bersembunyi di dalam WC sekolah saat hendak dikonfirmasi terkait dugaan pungutan liar (pungli) seragam.
Awalnya, situasi terlihat biasa saja. Seorang guru, Fitria, menyebut kepala sekolah sedang rapat di kantor Komite Koordinasi Pendidikan (kordik). Namun, setelah ditelusuri, rapat tersebut rupanya tidak jauh-jauh, masih di lingkungan sekolah, bahkan diduga berlangsung di balik pintu WC.

Entah ini strategi komunikasi baru atau sekadar spontanitas, yang jelas kejadian ini sukses menimbulkan tanda tanya besar di kalangan publik. Wartawan yang datang untuk konfirmasi malah dibuat seperti main petak umpet.
Setelah drama satu babak selama kurang lebih satu setengah jam, kepala sekolah akhirnya muncul dan memberikan klarifikasi. Ia membantah adanya kewajiban pembelian seragam di sekolah.
“Silakan beli di mana saja, tidak ada paksaan. Kami hanya memberikan informasi. Bahkan sudah ada rapat dengan orang tua,” ujarnya.
Namun, pernyataan tersebut justru tidak sepenuhnya sejalan dengan pengakuan sejumlah wali murid. Salah satunya, NT (30), mengaku tidak pernah merasa diajak rapat.
“Rapatnya di mana ya? Saya tidak pernah diundang. Tiba-tiba seperti sudah diarahkan saja,” ucapnya, kecewa.
Perbedaan versi ini tentu membuat publik makin bertanya-tanya. Jika memang tidak ada yang dipaksakan, kenapa suasananya terasa seperti wajib tapi tidak wajib.
Padahal aturan sudah jelas. Dalam PP Nomor 17 Tahun 2010 dan Permendikbud ristek Nomor 50 Tahun 2022, pengadaan seragam sepenuhnya menjadi hak orang tua tanpa tekanan dari pihak sekolah.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa transparansi tidak cukup hanya disampaikan lewat kata-kata, tapi juga sikap. Sebab, sebaik apa pun klarifikasi, akan sulit dipercaya jika diawali dengan adegan menghilang.
Kini publik menunggu langkah dari dinas pendidikan. Karena kalau komunikasi saja sudah seperti petak umpet, wajar jika kepercayaan masyarakat ikut sembunyi juga.***












