CIANJUR|INICIANJUR.COM – Udara sejuk di kaki Gunung Gede Pangrango menjadi saksi perayaan istimewa Hari Ulang Tahun (HUT) ke-174 Kebun Raya Cibodas (KRC). Momentum bersejarah ini tidak hanya menjadi ajang selebrasi, tetapi juga penegasan komitmen terhadap pelestarian alam melalui revitalisasi Taman Lumut dan penanaman pohon langka. pada (13/4/2026)
Salah satu sorotan utama perayaan ini adalah peresmian kembali Taman Lumut, yang kini tampil lebih segar dan edukatif setelah direvitalisasi sejak September 2025. Taman seluas 1.500 meter persegi ini merupakan taman lumut terbesar di Indonesia, menghadirkan keunikan tiga kelas lumut, yakni lumut hati (Hepaticopsida), lumut tanduk (Anthocerotopsida), dan lumut daun (Bryopsida).
Sebanyak 35 jenis lumut telah teridentifikasi secara ilmiah melalui kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Mitra Natura Raya (MNR). Beberapa di antaranya merupakan spesies asli kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, menjadikan taman ini tidak hanya indah secara visual, tetapi juga bernilai konservasi tinggi.

Revitalisasi dilakukan dengan penataan ulang area planter dan kolam yang menyerupai habitat alami lumut. Penambahan berbagai jenis bebatuan tidak hanya mempercantik lanskap, tetapi juga berfungsi ekologis dalam menjaga kelembapan, menciptakan mikrohabitat yang ideal bagi pertumbuhan lumut. Untuk memperkaya koleksi, KRC juga menghadirkan tanaman akuatik populer di dunia aquascape seperti Taxiphyllum barbieri, Riccia fluitans, dan Java fern (Microsorum pteropus).
Managing Director PT Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto, menegaskan bahwa revitalisasi ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat fungsi edukasi Kebun Raya Cibodas.
“Melalui revitalisasi ini, KRC menegaskan komitmennya dalam pengembangan fasilitas edukasi yang interaktif, ilmiah, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat perannya sebagai pusat konservasi tumbuhan di Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga: Kebun Raya Cibodas Dorong Sekolah di Cianjur Hijau dan Edukatif
Tidak hanya meresmikan Taman Lumut, perayaan HUT ke-174 juga ditandai dengan penanaman dua spesies pohon langka, yaitu Castanopsis argentea (saninten) dan Castanopsis tungurrut (tunggeureuk), yang keduanya termasuk dalam famili Fagaceae dan berstatus Endangered (EN) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Saninten, yang dikenal sebagai “rambutan hutan” karena bentuk buahnya, memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, seperti menahan erosi dan menyediakan habitat bagi berbagai satwa. Di Kebun Raya Cibodas sendiri terdapat sekitar 40 spesimen saninten.
Sementara itu, tunggeureuk merupakan tumbuhan endemik Indonesia yang tumbuh di dataran tinggi 1.000–2.000 mdpl, dengan koleksi sekitar 15 spesimen di KRC yang berasal dari hasil eksplorasi di Resort Goalpara, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada tahun 2023.

Didirikan pada tahun 1852, Kebun Raya Cibodas telah menjadi benteng penting pelestarian tumbuhan pegunungan tropis di Indonesia. Mengusung tema “Harmoni Alam untuk Masa Depan: 174 Tahun Kebun Raya Cibodas, Sinergi untuk Keanekaragaman Hayati,” perayaan ini juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan menarik seperti bazar tanaman hias, donor darah, kelas edukasi, tour de kebun, serta pertunjukan seni dan budaya.
Momentum ini menegaskan peran strategis KRC tidak hanya sebagai pusat konservasi dan penelitian, tetapi juga sebagai destinasi wisata alam unggulan yang mengedepankan edukasi lingkungan.
“Melalui sinergi dan kesadaran bersama, diharapkan upaya pelestarian keanekaragaman hayati dapat terus berlanjut demi masa depan yang berkelanjutan,” tutup Marga Anggrianto.
Dengan semangat 174 tahun pengabdian, Kebun Raya Cibodas terus melangkah menjadi simbol harmoni antara manusia dan alam, menjaga warisan hayati Indonesia untuk generasi mendatang.
Direktur Pengelolaan Koleksi Ilmiah, Dr. Sasa Sofyan Munawar, S.Hut., M.P., menambahkan bahwa revitalisasi Taman Lumut dilakukan sebagai langkah penting untuk menjaga kualitas fasilitas konservasi yang telah lama dibangun.
“Revitalisasi ini kami lakukan karena fasilitas yang sebelumnya dibangun sudah cukup lama dan kondisinya mulai mengalami penurunan. Melalui dukungan mitra kami, PT Mitra Natura Raya (MNR), dilakukan pembaruan agar taman ini kembali optimal,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pembaruan tersebut tidak hanya meningkatkan estetika taman, tetapi juga memperkuat fungsi edukasinya bagi masyarakat.
“Untuk meningkatkan daya tarik dan fungsi edukasi, setiap papan informasi tentang lumut kini dilengkapi dengan kode QR yang dapat dipindai oleh pengunjung untuk mengakses informasi lebih lengkap,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dr. Sasa menekankan bahwa seluruh koleksi lumut di Kebun Raya Cibodas merupakan hasil eksplorasi ilmiah dari habitat alaminya, sehingga memiliki nilai konservasi yang tinggi.
“Dari total 12.945 koleksi yang ada di sini, semuanya bukan tumbuh secara alami di kebun raya, melainkan merupakan hasil eksplorasi dari hutan alam. Inilah yang menegaskan peran kebun raya sebagai pusat konservasi ex situ,” jelasnya.***











