CIANJUR|INICIANJUR.COM — Inovasi dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Cianjur menarik perhatian daerah lain. Wakil Gubernur Gorontalo, Syahidah Rusli Habibie, melakukan kunjungan ke SMP Kabar Baik Cianjur pada Senin (13/4) untuk melakukan studi tiru terhadap model penyajian makanan secara prasmanan yang dinilai unik dan inspiratif.
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Syahidah yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) MBG Provinsi Gorontalo ingin melihat langsung inovasi yang diterapkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah naungan Yayasan Kabar Baik.
“Saya mendapatkan informasi bahwa ada SPPG yang setiap minggu menyajikan makanan dengan cara prasmanan. Ini menjadi daya tarik tersendiri dan patut dicontoh,” ujar Syahidah.
Baca Juga: Gegara Viral Jadi Ketahuan, Dapur MBG Cisarandi 2 Terancam Suspend
Menurutnya, konsep prasmanan memberikan pengalaman berbeda bagi para siswa. Selain menciptakan suasana yang lebih menyenangkan, metode ini juga mampu meningkatkan kepercayaan orang tua terhadap kualitas makanan yang disajikan dalam program MBG, yang selama ini masih menjadi perhatian di sejumlah daerah.

“Dengan melihat langsung proses penyajian, orang tua akan lebih yakin bahwa makanan yang diberikan benar-benar layak, higienis, dan sesuai dengan selera anak-anak,” jelasnya.
Syahidah menilai bahwa inovasi ini berpotensi menjadi contoh bagi daerah lain, termasuk Provinsi Gorontalo. Meski demikian, ia menegaskan bahwa sistem prasmanan tidak harus diterapkan setiap hari karena membutuhkan persiapan yang lebih matang dari sisi logistik dan biaya.
“Cukup dilakukan secara berkala, misalnya seminggu sekali dengan sistem bergiliran antar jenjang pendidikan. Hal ini akan memberikan variasi sekaligus menjaga efisiensi,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, model prasmanan tersebut pernah melayani hingga 1.000 penerima manfaat dalam satu kegiatan, menunjukkan bahwa konsep ini dapat diterapkan dalam skala besar.
Meski menawarkan banyak keunggulan, Syahidah mengakui bahwa sistem prasmanan memiliki tantangan tersendiri, terutama dibandingkan dengan sistem ompreng atau nasi kotak yang lebih praktis dan ekonomis.
“Memang lebih repot dan membutuhkan biaya yang lebih besar, namun jika direncanakan dengan baik, konsep ini tetap bisa menjadi solusi dalam kondisi tertentu,” tuturnya.
Kunjungan ini menjadi langkah awal bagi Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk mengevaluasi kemungkinan penerapan konsep serupa di wilayahnya. Syahidah berharap inovasi dari Cianjur ini dapat memperkuat pelaksanaan program MBG sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan gizi bagi anak-anak.
“Apa yang kami lihat di Cianjur menjadi inspirasi bahwa program MBG dapat dikemas lebih menarik dan efektif. Setelah kembali ke Gorontalo, ini akan menjadi bahan evaluasi untuk kemungkinan diterapkan,” ungkapnya.
Inovasi penyajian prasmanan ini diharapkan mampu menjawab berbagai kekhawatiran masyarakat terkait kualitas makanan dalam program MBG. Selain memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi siswa, konsep ini juga memperkuat transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan program.
Dengan adanya studi tiru ini, Cianjur kembali menunjukkan perannya sebagai daerah yang menghadirkan inovasi dalam pelayanan publik, khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas gizi generasi muda Indonesia.***











