CIANJUR | INICIANJUR.COM – Hutan bukan sekadar bentang alam yang harus dijaga, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi yang besar bagi masyarakat jika dikelola secara bijak dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Dr. Ir. Hj. Endang Setyawati Thohari, Desa., M.Sc., saat menghadiri acara Road to HKAN melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Usaha Ekonomi Masyarakat Sekitar Kawasan Bidang PTN Wilayah I Cianjur, bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Palace Cianjur, Sabtu (8/8/2026), dan diikuti kelompok tani hutan dari wilayah Cianjur hingga Sukabumi.
Endang menegaskan, kelestarian hutan harus menjadi tanggung jawab bersama karena hutan memiliki peran vital sebagai sumber oksigen sekaligus penyangga kehidupan masyarakat.
“Hutan itu harus kita jaga manfaatnya. Banyak sekali potensi lokal yang bisa dikembangkan, seperti tanaman hutan yang dapat dimanfaatkan untuk kosmetik, obat-obatan dan berbagai kebutuhan lainnya,” ujar Endang.
Menurutnya, pemanfaatan potensi hutan tidak boleh dilakukan dengan cara mengeksploitasi alam secara berlebihan. Ia menyoroti praktik pengambilan sumber daya alam yang tidak diikuti dengan upaya pemulihan lingkungan.
Endang menilai, kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia merupakan modal besar yang harus dijaga sekaligus dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau tidak kita lestarikan, kekayaan itu bisa diambil pihak asing. Kita memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar. Ini harus menjadi kekuatan ekonomi masyarakat,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Endang juga menyinggung kebakaran yang terjadi di kawasan Gunung Gede Pangrango.
Ia mengaku prihatin dan meminta masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kondisi hutan, terutama saat cuaca panas dan kering.
Menurutnya, kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan maupun sampah di kawasan hutan dapat menjadi ancaman serius terhadap kelestarian ekosistem.
“Jangan membuang sampah sembarangan, termasuk puntung rokok. Kita harus terus menyosialisasikan kepada masyarakat betapa pentingnya hutan bagi kehidupan,” tegasnya.
Endang menilai, menjaga hutan tidak berarti menutup seluruh akses masyarakat terhadap manfaat ekonomi. Sebaliknya, masyarakat sekitar kawasan hutan harus diberikan pengetahuan dan pendampingan agar mampu mengembangkan usaha tanpa merusak lingkungan.
Ia juga mendorong agar sektor pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan tidak berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, jika berbagai program tersebut diintegrasikan, potensi ekonomi yang dihasilkan akan jauh lebih besar.
“Pertanian jangan berjalan sendiri, kehutanan sendiri, KKP sendiri. Kalau disatukan, program-programnya sangat banyak dan manfaatnya bisa lebih besar untuk masyarakat,” ujarnya.
Endang mencontohkan berbagai program pemberdayaan ekonomi kelompok, termasuk pengembangan peternakan dan usaha produktif lainnya. Namun, ia menekankan pentingnya pengawasan agar bantuan pemerintah benar-benar dimanfaatkan dan berkembang.
Ia berharap masyarakat sekitar hutan tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi mampu menjadi pelaku ekonomi yang mandiri melalui pemanfaatan potensi kawasan secara bertanggung jawab.
“Yang paling penting adalah amanah. Program pemerintah harus benar-benar dimanfaatkan dan dikembangkan, jangan setelah bantuan diberikan kemudian dilupakan,” katanya.
Ke depan, Endang mendorong adanya hilirisasi hasil usaha masyarakat, sehingga produk yang dihasilkan tidak berhenti sebagai bahan mentah.
Menurutnya, pemerintah perlu hadir melalui dukungan, pendampingan dan kebijakan yang mampu memberikan nilai tambah kepada produk masyarakat, termasuk saat memasuki masa panen.
“Teknis ke depannya menurut saya adalah hilirisasi. Bagaimana pemerintah memberikan dukungan ketika panen, sehingga hasil masyarakat bisa dibeli dengan harga yang baik. Intinya harus tepat sasaran,” pungkasnya.
Melalui kegiatan bimtek tersebut, pemanfaatan potensi ekonomi hutan diharapkan dapat berjalan beriringan dengan konservasi. Hutan tetap lestari, sementara masyarakat di sekitar kawasan TNGGP mendapatkan manfaat ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.***










