CIANJUR|INICIANJUR.COM – Hari Donor Darah Sedunia yang diperingati setiap 14 Juni menjadi momen refleksi bagi PMI Kabupaten Cianjur. Di balik semangat berbagi dan aksi kemanusiaan, terselip fakta yang membuat petugas PMI hanya bisa tersenyum getir.
Bagaimana tidak, selama periode 6 hingga 13 Juni 2026, tercatat sebanyak 3.013 orang datang dengan niat mulia untuk mendonorkan darahnya. Namun setelah melewati pemeriksaan kesehatan, hanya 163 orang yang dinyatakan lolos dan bisa menyumbangkan darah.
Artinya, lebih banyak yang pulang membawa sertifikat niat baik daripada kantong darah.
Fakta tersebut diungkapkan Ketua PMI Kabupaten Cianjur, Ahmad Fikri, saat peringatan Hari Donor Darah Sedunia yang digelar di halaman Kantor PMI Cianjur, Jalan Raya Dr Muwardi, Minggu (14/6/2026).
Baca juga: Kades Rudi Sukses Bangun Kesadaran Donor Darah, Warga Sukakerta Kini Antusias
“Semangat masyarakat sebenarnya luar biasa. Yang datang banyak, tapi setelah diperiksa ada yang tensinya tinggi, hemoglobinnya kurang, ada juga yang baru begadang. Akhirnya yang bisa donor jauh lebih sedikit,” ujarnya.
Acara yang dibuka langsung oleh Bupati Cianjur dr. Muhammad Wahyu Ferdian itu sekaligus menjadi pengingat bahwa donor darah bukan hanya soal datang ke lokasi, tetapi juga menjaga kesehatan tubuh agar memenuhi syarat.
Bupati pun mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk menjadikan donor darah sebagai gaya hidup.
“Kalau bisa donor darah dijadikan tren. Jangan hanya tren kopi kekinian atau konten media sosial, tapi juga tren menyelamatkan nyawa orang lain,” kata Wahyu.
Di balik suasana peringatan yang meriah, PMI justru tengah menghadapi persoalan serius. Stok darah yang idealnya minimal 100 kantong, dalam dua pekan terakhir hanya tersisa sekitar 20 kantong.
Baca juga: Jembatan Gantung Cijati Memprihatinkan, Angga Linoseva Desak Pemkab Cianjur Bergerak Cepat
Padahal kebutuhan darah di Kabupaten Cianjur mencapai sedikitnya 30 kantong per hari, terutama untuk pasien talasemia yang harus menjalani transfusi rutin.
Akibatnya, PMI Cianjur terpaksa “pinjam darah ke tetangga” dengan berkoordinasi ke PMI Bogor dan Jakarta untuk memenuhi kebutuhan pasien.
“Kalau stok habis, kami harus mencari bantuan dari daerah lain. Jangan sampai pasien lebih cepat mencari darah daripada PMI,” ujar Ahmad.
Dalam kesempatan itu, Ahmad juga meluruskan pertanyaan klasik yang hampir selalu muncul setiap tahun: kenapa darah yang didapat gratis dari pendonor masih dikenakan biaya saat digunakan pasien?
Menurutnya, yang dibayar bukan darahnya, melainkan proses pengolahannya.
“Darah itu bukan mie instan yang langsung bisa dipakai. Harus diperiksa, disaring, diuji laboratorium, disimpan dengan alat khusus, dan dipastikan aman sebelum diberikan ke pasien,” jelasnya.
PMI berharap semakin banyak masyarakat yang tidak hanya datang mendaftar donor darah, tetapi juga menjaga pola hidup sehat agar lolos pemeriksaan.
Sebab saat ini, menurut PMI, tantangan terbesar bukan mencari orang yang mau donor, melainkan mencari pendonor yang sehat, cukup istirahat, dan tidak begadang semalaman demi maraton drama atau pertandingan sepak bola.
Karena pada akhirnya, satu kantong darah yang berhasil terkumpul jauh lebih berharga daripada seribu alasan kenapa belum bisa donor.***












