Potret Ramadan, Warga Binaan Lapas Cianjur Mencari Ampunan dalam Penjagaan Ketat

  • Bagikan

CIANJUR | INICIANJUR.COM – Dinding beton dan jeruji besi tidak menjadi penghalang bagi para pencari ampunan. Di tengah sunyinya malam bulan suci Ramadan, suasana khidmat menyelimuti Lapas Kelas IIB Cianjur. Masjid At-Taubah menjadi saksi bisu saat ratusan warga binaan bersimpuh, meluruhkan ego dalam balutan Shalat Tarawih berjamaah.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud kerinduan akan kehidupan yang lebih baik. Namun, di balik suasana haru dan syahdu tersebut, napas kedisiplinan tetap berembus kencang. Pengawasan melekat dari jajaran petugas pemasyarakatan memastikan bahwa setiap jengkal pergerakan tetap berada dalam koridor keamanan yang ketat.

Pelaksanaan ibadah dilakukan dengan manajemen yang disiplin. Warga binaan pria dan wanita keluar dari kamar hunian secara bergantian dan terjadwal. Tidak ada celah bagi kelonggaran, setiap prosedur pengamanan dijalankan tanpa kompromi demi menjaga kondusivitas Lapas.

Setelah Tarawih, suasana berlanjut dengan tadarus Al-Qur’an yang diikuti oleh para warga binaan dan santri pondok pesantren Lapas. Di bawah tatapan waspada petugas dari Posko Ramadan, kegiatan ini berlangsung hingga pukul 22.00 WIB, menjadi momentum muhasabah diri bagi mereka yang sedang menebus khilaf di masa lalu.

Kepala Lapas Cianjur, Prayogo Mubarak, menegaskan bahwa Ramadan adalah waktu bagi “pembinaan tanpa henti”. Antara hak ibadah dan kewajiban menjaga keamanan harus berjalan beriringan tanpa kecuali.

“Ramadan adalah momentum emas untuk meningkatkan iman dan takwa. Namun, kami tegaskan, kemanusiaan dalam memfasilitasi ibadah tidak akan sedikit pun mengurangi kewaspadaan kami. Hak mereka untuk beribadah kami penuhi secara maksimal, namun standar keamanan adalah harga mati,” tegas Prayogo.

Ia menambahkan bahwa pengawasan melalui Posko Ramadan dilakukan untuk memastikan setiap warga binaan menjalankan ibadah dengan tenang tanpa ada gangguan keamanan dan ketertiban (kamtib).

Melalui kombinasi antara pendekatan spiritual yang menyentuh hati dan pengawasan yang tegas, Lapas Cianjur berharap Ramadan tahun ini mampu melahirkan karakter baru.

Sebuah proses transformasi bagi warga binaan: dari sosok yang pernah tersesat, menjadi pribadi yang taat pada Tuhan dan patuh pada hukum saat kembali ke masyarakat nanti.***

Penulis: Restu FEditor: Deni Hendra
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!