CIANJUR|INICIANJUR.COM – Rapat Paripurna DPRD Cianjur mendadak punya “bumbu tambahan” yang tak masuk agenda aksi diduga tidur pulas salah satu anggota dewan di tengah pembahasan Raperda.
Di saat anggota lain serius menyimak jalannya sidang, satu kursi justru menampilkan pemandangan berbeda.
Dengan kacamata bening, sang wakil rakyat terlihat bersandar santai, tangan di atas perut, posisi yang lebih cocok untuk rebahan ketimbang rapat penting. Kalau saja ada bantal, mungkin sudah masuk sesi mimpi babak kedua.
Baca Juga: Semarak Idul Fitri,DPRD Cianjur Gelar Halal Bihalal, Perkuat Kebersamaan dan Soliditas Lembaga
Rapat yang dipimpin Ketua DPRD Cianjur Metty Triantika, bersama Wakil Ketua Ganjar Ramadhan dan Lepi Ali Firmansyah, serta dihadiri Bupati Cianjur dr. Mohammad Wahyu Ferdian itu sebenarnya berjalan formal.
Namun suasana sempat ricuh dan entah bagaimana, kericuhan itu tidak cukup “berisik” untuk membangunkan yang terlelap.
Momen ini pun cepat jadi sorotan. Aktivis Cianjur, Hendra Malik, tak tinggal diam. Ia menyindir keras fenomena tersebut, meski situasinya nyaris seperti adegan komedi.
“Ini bukan sekadar capek. Ini sudah seperti ‘fitur auto-sleep’ di tengah rapat penting. Bedanya, ini dibiayai pajak rakyat,” ujarnya.
Menurut Hendra, Rabu (23/4/2026) rapat Paripurna adalah tempat lahirnya keputusan penting untuk masyarakat, bukan ruang transit untuk mengisi ulang energi.
“Bayangkan, pedagang bangun subuh, buruh lembur sampai malam, lalu pajaknya dipakai untuk membiayai orang tidur saat kerja. Ini bukan lagi lucu, ini ironi,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap kursi dewan adalah representasi ribuan suara rakyat. Jadi ketika ada yang off sejenak, yang ikut off” bukan cuma perhatian, tapi juga aspirasi masyarakat.
Alasan lelah pun dianggapnya sudah tak relevan. “Kalau jadwal padat bikin ngantuk, ya jangan jadikan rapat sebagai tempat power nap. Ini bukan ruang tunggu bandara,” sindirnya.
Hendra pun mendorong Badan Kehormatan DPRD untuk bertindak tegas. Jika dibiarkan, publik bisa-bisa mengira gedung dewan adalah coworking space plus fasilitas tidur gratis.
“Rakyat butuh wakil yang melek, bukan yang merem. Jangan sampai bangunnya cuma pas masa kampanye,” tegasnya.
Di akhir, Hendra mengingatkan agar publik tidak hanya menertawakan kejadian ini.
“Kalau ini terus dianggap lucu, lama-lama yang serius justru jadi lelucon. Ini bukan komedi, ini alarm demokrasi,” pungkasnya.***












