CIANJUR | INICIANJUR.COM – Turnamen futsal tingkat SMP se- Jawabarat yang digelar di lingkungan salah satu SMAN di Cianjur mendadak jadi sorotan tajam. Bukannya menuai apresiasi sebagai wadah pembinaan pelajar, event tersebut justru menuai kritik lantaran dinilai lebih sibuk menarik uang dibanding memperhatikan kualitas fasilitas pertandingan.
Bagaimana tidak, peserta turnamen disebut harus merogoh kocek hingga Rp450 ribu untuk tim putra dan Rp500 ribu untuk tim putri.
Belum cukup sampai di situ, penonton yang datang pun masih dikenakan tiket masuk Rp20 ribu hanya untuk menyaksikan pertandingan futsal antar pelajar.
Yang membuat miris, mahalnya biaya itu tidak sejalan dengan kondisi lapangan yang digunakan.
Baca juga: Turnamen Futsal Antar RW di Sukamaju Jadi Ajang Seru-Seruan Warga Sambut HUT RI
Dari hasil pantauan awak media, area pinggir lapangan tampak bercampur tanah, berlubang, bahkan terlihat minim standar keamanan bagi pemain usia pelajar.
Alih-alih tampil profesional, kondisi venue justru dinilai membahayakan keselamatan pemain yang bertanding.
Salah satu panitia dari kelas 11 mengungkapkan bahwa turnamen diikuti 21 tim putra yang dibagi ke dalam beberapa grup.
“Untuk tim wanita saya kurang tahu karena saya hanya ditugaskan menjaga bola di pinggir lapang. Kurang lebih total semuanya ada 28 grup kalau tidak salah dalam satu grup ada tiga team,” ujarnya, saat di temui awak media pada (24/5/26).

Sementara itu, pengakuan mengejutkan datang dari salah satu panitia bagian registrasi. Ia membenarkan adanya pungutan tiket masuk Rp20 ribu kepada penonton dan menyebut kebijakan tersebut merupakan arahan pihak sekolah.
Baca juga: Serunya Pekan Olahraga di Lapas Cianjur, Ketika Warga Binaan Kompak di Lapangan, Bukan di Sidang
“Memang penonton dikenakan biaya masuk Rp20 ribu, itu instruksi sekolah, lebih tepatnya atas persetujuan kepala sekolah,” ungkapnya.
Pernyataan itu pun memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Pasalnya, event pelajar yang seharusnya menjadi ruang pengembangan bakat justru terkesan dijadikan ladang pungutan.
Kekecewaan juga datang dari salah seorang pelatih tema futsal yang ikut bertanding berinisial JA, Saat dimintai tanggapan terkait biaya registrasi dan kondisi lapangan, ia hanya menggeleng sambil berkata singkat dalam bahasa Sunda, “teuas,” yang berarti keras.
Ucapan sederhana itu seolah menggambarkan kondisi lapangan sekaligus kerasnya biaya yang harus ditanggung peserta.
Kini sorotan publik mengarah kepada pihak penyelenggara dan sekolah terkait transparansi anggaran, penggunaan dana registrasi, hingga alasan tetap digunakannya lapangan yang dinilai jauh dari kata layak untuk turnamen antar pelajar.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah maupun penanggung jawab kegiatan belum memberikan klarifikasi resmi terkait polemik tersebut.***












