CIANJUR — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus menggenjot efektivitas program prioritas Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK). Program ini dirancang khusus untuk menerjemahkan anak-anak tidak sekolah di bawah usia 25 tahun agar memiliki keterampilan dan kompetensi siap kerja.
Keberhasilan nyata terlihat dari Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Abdi Bangsa Institute. Sebanyak 25 peserta didik yang dititipkan melalui lembaga tersebut berhasil mencatatkan kelulusan 100 persen dan mengantongi kompetensi penuh.
Hebatnya lagi, seluruh peserta didik tersebut kini telah terserap di pasar global, termasuk di Malaysia, Thailand, dan beberapa negara lainnya.
”Dari 25 yang kita titipkan di Abdi Bangsa, 100 persen lulus uji kompetensi, dan yang paling membahagiakan, dari 25 itu terserap di pasar global. Ada yang di Malaysia, Thailand, dan ada juga yang bekerja di beberapa negara,” ujar Yaya Sutarya Direktorat Kursus dan Pelatihan, Rabu (21/10/2026).
Capaian ini merupakan target utama dari Program PKK Platinum, sebuah skema khusus yang disiapkan untuk men-support lembaga kursus agar mampu menyiapkan tenaga kerja terampil berstandar internasional.
Penguatan Lembaga Kursus dan Penyelarasan dengan Industri
Pihak kementerian menilai bahwa kursus merupakan pendidikan alternatif yang harus disetarakan dengan pendidikan formal.
Oleh karena itu, Direktorat Jenderal terus meningkatkan instrumen, struktur, dan kualitas lembaga agar mutu lulusannya semakin mumpuni.
Sejumlah langkah strategis telah dan sedang digalakkan oleh kementerian untuk mendukung lembaga kursus non-formal, di antaranya,
Peningkatan Kompetensi Instruktur.
Pada tahun ini, kementerian menyalurkan sekitar 150 beasiswa melalui kredensial mikro LPDP bagi instruktur di berbagai bidang keterampilan, termasuk sektor perhotelan (hospitality).
Penyediaan Pelatihan Massal
Kementerian memfasilitasi pelatihan bagi sekitar 3.000 instruktur dan penyelenggara kursus.
Beasiswa Kuliah Lanjutan (RPL) Menyediakan beasiswa kuliah Strata 1 (S1) melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi para instruktur kursus.
Pembinaan dan Akreditasi Lembaga, Memastikan standar penjaminan mutu internal melalui evaluasi kinerja daerah dan akreditasi yang ketat.
Kemitraan Kuat dengan Dunia Industri
Kementerian menekankan bahwa mitra industri merupakan garda terdepan dalam menyerap lulusan lembaga kursus. Seluruh program pelatihan dirancang secara spesifik berdasarkan kebutuhan nyata di dunia industri (demand-driven).
”Mitra dunia industri adalah garda terdepan. Kalau kita tidak bisa menjalin kemitraan, bagaimana kita akan menyalurkan peserta didik? Makanya, apa yang diberikan harus berdasarkan kebutuhan industri,” tegasnya.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, lembaga kursus seperti LPK Abdi Bangsa Institite, dan dunia industri, kementerian optimis pendidikan non-formal ke depan akan semakin dipercaya sebagai pencetak sumber daya manusia yang kompeten, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan global.***










