CIANJUR | INICIANJUR.COM – Pengelolaan hutan berkelanjutan di Jawa Barat menghadapi tantangan serius. Jumlah penyuluh kehutanan yang terbatas membuat pendampingan terhadap ribuan Kelompok Tani Hutan (KTH) belum ideal.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Temu Teknis Penyuluh Kehutanan Provinsi Jawa Barat di KTH Kondang Mas, Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Kamis (18/9/2026).
Kegiatan bertema “Membangun Sinergi Penyuluh Kehutanan, KTH dan Pemangku Kepentingan Dalam Pengelolaan Hutan Berkelanjutan” itu diikuti sekitar 40 peserta dari berbagai unsur kehutanan.

Kepala BP2SDM Kementerian Kehutanan RI, Indra Exploitasia Semiawan, mengungkapkan kebutuhan penyuluh kehutanan secara nasional masih jauh dari jumlah yang tersedia. Dengan kawasan hutan sekitar 120 juta hektare, kebutuhan ideal mencapai sekitar 24.000 penyuluh.
Di Jawa Barat, kondisi tersebut juga menjadi perhatian. Sekitar 1.449 penyuluh kehutanan harus mendampingi 5.335 Kelompok Tani Hutan (KTH) yang tersebar di berbagai wilayah.
“Artinya jumlah ini masih sangat kurang,” kata Indra.
Keterbatasan tenaga penyuluh dinilai berpengaruh terhadap intensitas pendampingan masyarakat dalam mengelola kawasan hutan, termasuk penguatan KTH, pemanfaatan potensi hutan, perlindungan lingkungan, serta upaya menjaga kelestarian sumber daya alam.
Anggota Komisi IV DPR RI, Dr. Ir. Hj. Endang Setyawati Thohari, DESS, M.Sc., menegaskan penyuluh kehutanan memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan hutan.
“Penyuluh itu adalah ujung tombak dari pembangunan kehutanan. Fasilitas harus diperhatikan, apalagi jumlah penyuluh kehutanan ini sangat sedikit dibandingkan luasan hutannya,” ujar Endang.
Menurutnya, penguatan penyuluh tidak hanya menyangkut penambahan jumlah personel, tetapi juga kesejahteraan, fasilitas kerja dan kemampuan menghadapi tantangan kehutanan yang terus berkembang.
H. Endang juga menyoroti pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan plasma nutfah Indonesia. Di sisi lain, regenerasi sumber daya manusia kehutanan perlu dipersiapkan agar sektor kehutanan tidak kehilangan tenaga muda.
Modernisasi peralatan dinilai dapat menjadi salah satu langkah untuk menarik generasi muda agar tertarik mengembangkan sektor pertanian dan kehutanan.
“Tujuannya supaya generasi muda mau bertani dan berhutan. Kalau alatnya modern, pemuda-pemuda kita akan bangga dan senang,” katanya.
Temu teknis tersebut menjadi ruang bagi penyuluh dan KTH untuk menyampaikan berbagai persoalan di lapangan, sekaligus memperkuat sinergi dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang tidak hanya produktif bagi masyarakat, tetapi tetap menjaga fungsi ekologis dan keberlanjutan kawasan hutan.***










